Poems

Matematikaku Kacau

Kicau burung terbang, terdengar kacau
berhambur dengan mata elang
menerawang hati yang kelam
Jika hati berkicau, semua tampak kacau
Jika semua kacau, hati tak berkicau
Sebuah silogisme mati
berjuang tiada henti
tak pernah kacau, jika aku tak berkicau
tapi akan lebih kacau, jika aku terus tak berkicau

Sungguh, hanya teorema yang mampu membungkam mulut kacauku
Ya, teorema…
Ia benar
Ia besar
Tapi akankah aku tetap bertahan dengan teorema
Mungkinkah dalilku ‘kan jadi aksioma
yang tak terbantahkan
yang tak perlu dibenarkan
karena hati ini adalah sebuah kesepakatan
Lalu, cukupkah bukti dari teoremaku?
‘tuk mengubah pandanganmu tentang kegundahan
yang layu dan patah tak tahu arah
‘tuk berjuang menjadi sepucuk galah

AKU MENCARI BENTUK

Hilang sudah fajarku

dihembus angin tua, matang

matahariku berada di peraduan

memuncak tegak di atas awan

jiwaku masih tersembunyi

hinggap diam di balik tirai pagi

Aku takut melawan siang

Panas panjang yang penuh perjalanan

Kawan, aku sedang mencari bentuk

Bentukku pudar, kasar tak karuan

Harapku mulai kutampakkan dalam kebingungan

Pancaran sinarku tertutup awan

Kawan, andai kau tahu

Betapa aku ingin merobek awan itu

Hingga aku terlihat tegak, dipandang alam.

Kaukah Bayanganku?

Kau …

indah kulihat dengan mata

cantik kulihat dengan hati

Saat pasukan ragaku menerawangmu

Menelisik diantara keangkuhan jiwaku,

Kau begitu sempurna,

Mengungkapkan aura yang bergeliat,

Menjawab pertanyaan yang terus berkutat,

Saat matahariku menembus jilbabmu,

Kau pantulkan bayangan dari setiap sudut hatimu

Bayangan itu, menembus tajam dadaku,

Menggetarkan tipis bibirku,

Kaukah bayanganku?

Cantikmu ‘kan s’lalu kupuja

Indahmu ‘kan s’lalu kubawa

Menerobos setiap lapis dunia

Mengabarkan ke seluruh penghuni jagad raya

Juli 2008 dengan gubahan Sept 2011

Di Penghujung Awal

Sekarang…

Hatiku berdesir

Sekarang…

Otakku berfikir

Sekarang awalku ‘kan berakhir

Awan itu datang lagi

Menutupi jendelaku

Ia tak tahu

Aku masih di dalam, berjuang melawan gelap

Merajut setitik demi setitik sinar

Untuk kukabarkan ke luar jendela

Sungguh aku bisa membukanya

Tapi sekarang…

Hatiku berdesir

Otakku berfikir

Awalku…akan berakhir

Bagaimanakah aku nanti?

Mungkinkah aku terus bergelut dengan gelap?

Berhasilkah aku membuka jendela itu?

Aku tak tahu

Aku takut

Kata orang, di luar sana terlalu terang

Di luar sana terlalu cerah

Tapi,aku punya kunci

Lalu, mengapa aku takut?

26 Desember 2006

Terkungkung

Aku di penjara

Sedang menanti pahala

Bercucur air mata

Berlinang rasa hina

Hai…aku di sini

Don’t leave me!

Tak terbayang

hidup dalam hitam kelam

bertambah panjang

berpucuk pedang

menembus terus

tapi tak pecus

Sungguh…

Harapku seluruh

Pada-Mu Ya Penguasa Shubuh

24 Februari 2007

Dzikir Cinta

Ketika cinta bertasbih

Mata-mata terpejam

Setiap dengar menghambar

Rasa manis pun memudar

Ketika cinta bertasbih

Semua bibir bergetar

Setiap lambung rindu lapar

Saling berdendang, saling bersarang…

Saling mengindahkan

Ketika cinta bertasbih

Surge-surga bersaut-sautan

Bersuara saling menguatkan

Menanti wajah, berbagi senyuman

Mengharap-harap penghuni yang tenang

Ketika cinta bertasbih

Tiada lagi hati bersedih

Tiada lagi kaki-kaki letih

Yang ada hanya kecupan mesra

Dari Sang Maha Cinta

Lukamu

Ketika engkau terluka,

siapkah hatimu menantang maut yang menanti?

menghukum jiwamu yang tak mau berontak?

Walau hanya sekilo kejahatan sepetak,

Sandarkanlah…

Rebahkanlah…jiwamu

Hinggapkanlah..lukamu dengan air garam yang ganas,

Ia akan mampu meluapkan kegundahanmu

Ia akan membenamkan rasa sakit di hatimu

Jika sudah,..

Maka, mudahlah hidup ini

Surgalah ladang-ladang ini.

5 Juli 2008

Sebuah Rasa

Batin, hidup, senja, tenggang

Berembun madu berkabut siang

Rasa ini tak pernah bohong

Walau kadang terlihat blo’on

Yang bohong sungguh hanyalah mata

Ia berlinang tapi tak bersuara

Bagai macan meraung-raung

Yang sepi akan mangsa yang murung

Rasa..rasa..

Inikah rasanya..rasa?

Sepi

Sunyi

Kelam

Mati

Maret 2008

 

Kutemukan

Entah mengapa

Hari ini

Detik ini

Aku merasa menjadi angka Satu

tegak, awal, satu arah pandang

Tak gundah

Tak resah

Tak pernah aku merasa menjadi indah

Indah seindah detik ini

Padahal kemarin aku patah

Aku baru bangun

Tidurku tak bermimpi

Dan aku tak perlu bermimpi

Karena aku sudah menari

Menikmati cita-cita yang suci

26 Februari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: