Intermezzo: Mengenang Puisi Lama

By: AHMAD WACHIDUL KOHAR

Kaukah Bayanganku?

Kau …

indah kulihat dengan mata

cantik kulihat dengan hati

Saat pasukan ragaku menerawangmu

Menelisik diantara keangkuhan jiwaku,

Kau begitu sempurna,

Mengungkapkan aura yang bergeliat,

Menjawab pertanyaan yang terus berkutat,

Saat matahariku menembus jilbabmu,

Kau pantulkan bayangan dari setiap sudut hatimu

Bayangan itu, menembus tajam dadaku,

Menggetarkan tipis bibirku,

 

Kaukah bayanganku?

Cantikmu ‘kan s’lalu kupuja

Indahmu ‘kan s’lalu kubawa

Menerobos setiap lapis dunia

Mengabarkan ke seluruh penghuni jagad raya

Juli 2008 dengan gubahan September 2011

 

Malukah..

Dulu kau pernah bilang, kau tak ‘kan sedikit pun menyentuh dia

Bahkan memandang sejenak pun tak kira

Sekarang, kau sentuh dia

Kau cumbu dia

Kau permainkan dia

Tidak malukah kau?

Kau ajak bercengkerama dia

Bicara masalah dosa

Kau ajari dia tentang dusta

Kau cekoki dia dengan putihnya pahala

Tapi, apa yang kau perbuat dengan dia?

Pantaskah dusta kau katakan?

Sedangkan matamu tetap jelalatan, memandang yang tak karuan

Sedangkan hatimu semakin kotor, kebanjiran nanah dari pembuluh yang bocor

Pantaskah pahala kau dengungkan?

Sedang, auramu kian memudar, menyebar berhamburan keluar

Sedang, putihmu kian menghitam, tertutup dia yang kelam

Sungguh mukamu telah tebal, dan semakin menebal

Ketuklah rumah di hatimu..

Apa rumah itu telah sadar, bahwa pagarnya kian merayap

Ajari dia

Bangunkan dia dari mimpi panjang penuh derita

16 Juli 2008

 

Di Penghujung Awal

Sekarang…

Hatiku berdesir

Sekarang…

Otakku berfikir

Sekarang awalku ‘kan berakhir

 

Awan itu datang lagi

Menutupi jendelaku

Ia tak tahu

Aku masih di dalam, berjuang melawan gelap

Merajut setitik demi setitik sinar

Untuk kukabarkan ke luar jendela

 

Sungguh aku bisa membukanya

Tapi sekarang…

Hatiku berdesir

Otakku berfikir

Awalku…akan berakhir

 

Bagaimanakah aku nanti?

Mungkinkah aku terus bergelut dengan gelap?

Berhasilkah aku membuka jendela itu?

Aku tak tahu

Aku takut

Kata orang, di luar sana terlalu terang

Di luar sana terlalu cerah

 

Tapi,aku punya kunci

Lalu, mengapa aku takut?

26 Desember 2006

 

Terkungkung

Aku di penjara

Sedang menanti pahala

Bercucur air mata

Berlinang rasa hina

Hai…aku di sini

Don’t leave me!

Tak terbayang

hidup dalam hitam kelam

bertambah panjang

berpucuk pedang

menembus terus

tapi tak pecus

Sungguh…

Harapku seluruh

Pada-Mu Ya Penguasa Shubuh

24 Februari 2007

Dzikir Cinta

Ketika cinta bertasbih

Mata-mata terpejam

Setiap dengar menghambar

Rasa manis pun memudar

 

Ketika cinta bertasbih

Semua bibir bergetar

Setiap lambung rindu lapar

Saling berdendang, saling bersarang…

Saling mengindahkan

 

Ketika cinta bertasbih

Surge-surga bersaut-sautan

Bersuara saling menguatkan

Menanti wajah, berbagi senyuman

Mengharap-harap penghuni yang tenang

 

Ketika cinta bertasbih

Tiada lagi hati bersedih

Tiada lagi kaki-kaki letih

Yang ada hanya kecupan mesra

Dari Sang Maha Cinta

Juli  2008

 

Lukamu

Ketika engkau terluka,

siapkah hatimu menantang maut yang menanti?

menghukum jiwamu yang tak mau berontak?

Walau hanya sekilo kejahatan sepetak,

Sandarkanlah…

Rebahkanlah…jiwamu

Hinggapkanlah..lukamu dengan air garam yang ganas,

Ia akan mampu meluapkan kegundahanmu

Ia akan membenamkan rasa sakit di hatimu

Jika sudah,..

Maka, mudahlah hidup ini

Surgalah ladang-ladang ini.

5 Juli 2008

 

Sebuah Rasa

Batin, hidup, senja, tenggang

Berembun madu berkabut siang

Rasa ini tak pernah bohong

Walau kadang terlihat blo’on

Yang bohong sungguh hanyalah mata

Ia berlinang tapi tak bersuara

Bagai macan meraung-raung

Yang sepi akan mangsa yang murung

Rasa..rasa..

Inikah rasanya..rasa?

Sepi

Sunyi

Kelam

Mati

Maret 2008

 

Kutemukan

Entah mengapa

Hari ini

Detik ini

Aku merasa menjadi angka Satu

tegak, awal, satu arah pandang

Tak gundah

Tak resah

Tak pernah aku merasa menjadi indah

Indah seindah detik ini

Padahal kemarin aku patah

Aku baru bangun

Tidurku tak bermimpi

Dan aku tak perlu bermimpi

Karena aku sudah menari

Menikmati cita-cita yang suci

26 Februari 2007

About Bang Qohar

I'm Wachid. I'm Indonesian. I'm interested in educating children, especially in mathematics learning. I believe that mathematics could be well built to children for better life. I graduated from Mathematics Education of State University of Surabaya. I am studying Mathematics Education for my magister degree focusing on Realistics Mathematics Education.

Posted on May 6, 2014, in Poems and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: