Pengembangan Soal Matematika Model PISA: Sebuah Alternatif Langkah Awal Memperbaiki Prestasi Literasi Matematika Siswa Indonesia  

 Image

Oleh: Ahmad Wachidul Kohar

Indonesia berpartisipasi dalam studi PISA (Programme for International Student Assessment) matematika sebanyak lima kali selama tahun 2000-2012. Namun, sejak pertama kali keikustsertaan ini, prestasi siswa-siswa Indonesia belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Dalam kurun waktu 2003-2009 hampir 80% siswa Indonesia hanya mampu mencapai di bawah garis batas level 2 dari enam level soal yang diujikan (Widjaja, 2011). Lebih lanjut  pada PISA matematika tahun 2009, hampir semua siswa Indonesia hanya mencapai level 3 saja, sedangkan hanya 0,1% siswa Indonesia yang mampu mencapai level 5 dan 6. (Kemdikbud, 2013; Stacey, 2011). Keterpurukan prestasi ini semakin terlihat pada survei PISA terbaru tahun 2012 dimana sebagian besar siswa Indonesia belum mencapai level 2 (75%) dan 42 % siswa bahkan belum mencapai level terendah (level 1) (OECD, 2013).

Memang tidak berlebihan jika melihat buruknya prestasi siswa Indonesia ini  dari sisi level soal yang berhasil dikerjakan. Dalam PISA, level soal menggambarkan  kecakapan siswa dalam memecahkan masalah sehari-hari yang membutuhkan matematika dalam menyelesaikannya. Kecakapan yang biasa disebut oleh PISA sebagai literasi matematika ini merujuk pada kemampuan siswa dalam merumuskan masalah secara matematis berdasarkan konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang melekat pada masalah tersebut, lalu menerapkan prosedur matematika untuk memperoleh ‘hasil matematika’ dan menafsirkan kembali hasil tersebut ke dalam bentuk yang berhubungan dengan masalah awal. Lalu, bagaimana dengan kondisi kemampuan literasi matematika siswa Indonesia?

Beberapa studi ilmiah telah memaparkan beberapa alasan mengapa siswa Indonesia tidak cakap dalam berliterasi matematika. Edo (2012) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa siswa Indonesia tidak terbiasa dengan soal yang berbau pemodelan, dimana kemampuan untuk menerjemahkan masalah sehari-hari ke dalam bentuk matematika formal dibutuhkan dalam menyelesaikannya. Sementara itu, Al Jupri (2014) dalam penelitian terbarunya menyatakan bahwa kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual disebabkan kurangnya buku teks matematika di Indonesia yang menekankan pada pemecahan masalah sehari-hari seperti yang diujikan dalam PISA. Pada kenyataanya, banyak soal-soal yang ditemukan di lapangan termasuk ujian nasional  hanya menguji keterampilan menggunakan prosedur matematika saja seperti perhitungan rumit yang sebenarnya sudah bisa digantikan tugasnya oleh alat seperti kalkulator.  Padahal, dalam PISA sendiri kemampuan menggunakan alat semacam itu malah dianjurkan dalam penyelesaian soal, bahkan dinilai sebagai salah satu kompetensi dalam komponen literasi matematika (OECD, 2013).

Penulis berpikir, andaikan soal model PISA diselipkan dalam setiap ujian matematika dalam skala sekolah maupun nasional, tentu akan menjadi langkah awal yang baik dalam meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Tidak dapat dipungkiri banyak siswa hanya mempelajari soal matematika tertentu karena memang soal semacam itu yang akan diujikan dalam UNAS. Padahal sudah banyak kritik terhadap konten soal UNAS yang sebagian besar hanya menguji keterampilan prosedural saja. Hal ini berakibat pada pola pembelajaran matematika yang akhirnya hanya menyesuaikan dengan kebutuhan penyelesaian soal UNAS saja. Andaikan konten soal UNAS disesuaikan dengan soal PISA, tentu mau tidak mau siswa harus belajar soal model PISA. Dengan demikian, guru sebagai fasilitator siswa akan menyesuaikan pengajarannya di kelas untuk membelajarkan materi matematikanya berbasis proses  penyelesaian PISA seperti melibatkan proses berpikir tingkat tinggi seperti bernalar, berargumen, berkomunikasi, dan menggunakan strategi pemecahan masalah.

Nah, untuk membantu guru dalam membelajarkan matematika berbasis soal PISA, tentu perlu ada sumber bahan ajar yang relevan dengan konsep soal PISA. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan bank soal model PISA. Sebenarnya beberapa set soal PISA telah dirilis oleh OECD sebagai bahan kajian bagi pemerhati pendidikan di seluruh dunia. Namun, jumlah soalnya yang terbatas tentu tidak cukup untuk digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Untuk itu, perlu dikembangkan soal-soal model PISA yang konten dan konsruk soalnya didasarkan pada konsep literasi matematika. Dalam proses pengembangannya, soal model PISA bisa dibuat melalui proses: (1) mengidentifikasi profil soal PISA yang telah dirilis sehingga bisa diketahui pola susunannya; (2) menemukan konteks sehari-hari yang relevan dengan konten matematika; (3) menyusun materi soal ; (4) membuat rubrik penyelesaian; (5) memberikan perangkat soal kepada pakar soal PISA untuk diuji kevalidan soalnya; (6) mengujicobakan soal ke kelompok kecil untuk mengetahui kelemahan susunan soal ditinjau dari bahasanya; (7) merevisi soal berdasarkan masukan dari pakar dan siswa; dan terakhir (8) menggunakannya dalam proses pembelajaran pada materi yang berkaitan dengan soal. Langkah-langkah di atas penulis tulis berdasarkan pengalaman pribadi dengan mengadaptasi proses pengembangan bahan ajar dari Formative Evaluation (Selengkapnya lihat Tessmer, 1993).

Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir ini, pengembangan soal model PISA telah menjadi fokus dari beberapa penelitian tesis pendidikan matematika dan bahan materi kajian di lembaga PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). Di Universitas Sriwijaya sendiri, tempat penulis menempuh pendidikan, tercatat lebih dari 15 judul tesis pengembangan soal model PISA dengan fokus kajian yang berbeda-beda. Sementara itu, PMRI melalui Kontes Literasi Matematika telah membukukan soal-soal model PISA untuk dilombakan bagi siswa-siswa SMP setiap tahunnya. Apabila soal-soal hasil penelitian ini dibukukan kemudian dipublikasikan secara merata ke seluruh Indonesia, maka hal ini akan membantu para pemerhati pendidikan matematika untuk ikut bersama-sama mengupayakan peningkatan prestasi literasi matematika di penyelenggaraan survei PISA selanjutnya.

Sebagai penutup, penulis ingin menekankan tiga hal. Pertama, sudah saatnya bentuk soal-soal ujian matematika baik skala sekolah maupun nasional didesain dengan melibatkan kemampuan literasi matematis. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pemegang kebijkan penyelengaaraan ujian. Kedua, pengembangan soal model PISA dapat menjadi alternatif peningkatan kuantitias soal yang dapat meningkatkan kemampuan literasi matematis. Ketiga, dengan semakin banyaknya soal model PISA, maka akan menambah pengetahuuan bagi para guru untuk terinspirasi mendesain pembelajaran matematika berbasis soal PISA. Agaknya ketiga langkah ini terlihat sederhana. Namun demikian, melalui langkah-langkah ini setidaknya mampu menjadi alternatif untuk mengupayakan peningkatan kemampuan literasi matematika siswa-siswa Indonesia.

 

REFERENSI

Al Jupri, Van den Heuvel-Panhuizen, M., Drijvers,P.H.M. (2014). Difficulties in initial algebra learning in Indonesia. Mathematics Education Research Journal, 12(3), 317–326

About Bang Qohar

I'm Wachid. I'm Indonesian. I'm interested in educating children, especially in mathematics learning. I believe that mathematics could be well built to children for better life. I graduated from Mathematics Education of State University of Surabaya. I am studying Mathematics Education for my magister degree focusing on Realistics Mathematics Education.

Posted on April 21, 2014, in Articles, Assessment in Math Education, For Teachers, Math Articles and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. dari ketiga objek yang diujikan (matematika, kemampuan membaca dan science) kenapa PISA lebih fokus kepada mathematics literacy ya bang…

    • PISA menempatkan masing-masing subjek sebagai domain kajian utama bergantian tiap penyelenggaraannya. Sebagai contoh, PISA 2012 menempatkan matematika sebagai kajian utama, dan tahun 2015 ini, sains yang menjadi kajian nutama..Mbak Wiwik bisa cek dinwebsite PISA langsung mengenai hal ini di oecd.org/pisa
      trima kasih kunjungannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: